Malam ahad kemarin, saya bermain
lempar tangkap bersama si bungsu Refah. Yah, menjadi salah satu kewajiban saya
pula untuk menemaninya bersenang-senang meski badan tidak dalam kondisi fit.
Dari permainan sederhana itu, keluar kata ‘sia’
dari bibir mungilnya. Bagi sebagian besar orang Sunda atau yang telah lama
tinggal berdampingan dengan suku itu, tiga kata barusan bermakna kasar. Maka,
sambil terus bermain lempar tangkap, teguran saya berupa kisah-kisah yang tak
jelas arahnya berlangsung.
Teguran saya diawali dengan
menjelaskan bahwa kata tersebut bermakna kasar. Saya bercerita padanya bahwa
saya sering kali kesal pada siapapun yang dengan santainya berseloroh dengan
kata-kata kasar, kotor, jorok hingga koleksi kebun binatang disebutkan dalam
kondisi apapun. Catat, dalam kondisi apapun. Maka dengan kesal saya
mengingatkan orang-orang tersebut melalui satu hadits shohih riwayat Bukhori,
“Fal yaqul khoiron au liyasmut,” “Berkatalah yang baik atau diam!”
Saya perhatikan kebiasaan ini
bermula dari lingkungan, baik keluarga maupun selainnya. Kata-kata tersebut
kemudian terus terngiang pada kalbu anak-anak yang masih suci sehingga sampai
mereka beranjak dewasa mereka menilai bahwa bukanlah kesalahan besar meski
berkata rendahan kepada siapapun dalam kondisi apapun. Sungguh, pendidikan yang
dienyam juga agama yang dianut mestilah berbanding lurus dengan akhlaq yang
dimiliki tiap insan.
Kemudian, teguran saya berlanjut
pada larangan mengikuti segala hal yang tidak diketahui si bungsu. Baik itu
lagu ataupun permainan dalam bahasa apapun. Tanyakan terlebih dahulu kepada
saya atau tetehnya. Setelah kami nyatakan itu aman, maka boleh dimainkan atau
dilantunkan olehnya.
Saya ingat, kala di masa yang sama
saya pernah memainkan sebuah permainan yang menurut saya sedikit menakutkan.
Mungkin ada yang masih ingat dengan permainan jelangkung? Karena tidak tahu
maksud permainan tersebut, saya terus memainkannya bersama kawan hingga masa
merah putih akan saya tinggalkan. Atau, lagu yang beberapa waktu lalu pernah
saya dengar di mobil jemputan anak-anak SD, yang membuat saya kaget. Memang
dari nadanya itu adalah lagu anak-anak, namun liriknya digubah. Ternyata maksud
lagu tersebut mengarah pada hubungan halal suami istri. Astaghfirullooh..
Merupakan PR besar bagi tiap pendidik agar dapat terus mendampingi buah hati
serta muridnya dalam jalur yang telah ditentukanNya.
Teguran saya beralih menjadi kisah
lain. Dan si bungsu kini diam serius mendengarkan namun tangannya terus beraktivitas.
Hal menakutkan tadi saya kaitkan dengan kisah yang berbau mistis berikut dengan
mengekornya insan yang tidak punya pendirian. Kisah ini saya dengar beberapa
tahun lalu saat masih berseragam putih abu-abu.
Beberapa pemuda di suatu desa,
berkumpul di sebuah rumah pada suatu malam. Sayangnya mereka bertingkah aneh,
ada yang beraksi seperti macan, buaya atau binatang lain. Ternyata mereka telah
merapalkan sesuatu yang akhirnya membuat tubuh mereka dirasuki jin. Maksud dari
tindakan bodoh itu ternyata adalah supaya mereka memiliki ilmu kebal. Semacam
tidak terluka bila ditusuk benda tajam.
Masih dengan wajah serius dan
antusias, si kecil Refah tetap mendengarkan sesekali berseru kaget atau takut
menanggapi cerita saya. Dihadapannya saya menanggapi kisah yang saya tuturkan
sendiri, aktivitas macam apa yang mereka lakukan sehingga membutuhkan hal
konyol tersebut? Tidakkah mereka takut bahwa selama 40 hari sholat mereka tidak
akan diterima?
Kisahpun berganti, namun jalinannya
masih dapat dipilin. Saya berujar pada adik kecil saya, “Enak lho jadi orang
Islam! Kalau kita takut, tinggal minta perlindungan sama Allah. Nggak perlu
bertingkah kaya orang-orang tadi.” Saya kisahkan padanya mengenai seorang siswi
SMP yang ketika akan berangkat sekolah di pagi hari diculik kemudian disekap di
bagasi mobil.
Setelah parkir di tempat yang sepi,
Sang Penculik berusaha membuka bagasinya dengan susah payah hingga senja menjelang.
Karena putus asa dan takut Sang Gadis mati kehabisan oksigen, akhirnya ia
menyerahkan diri berikut mobilnya agar dapat ditindaklanjuti. Polisi telah
meringkusnya, kemudian membuka bagasi tersebut dengan mudah. Ajaib, Sang Gadis
sehat wal’afiat. Dengan kaget dan luar biasa bingung, penculik tersebut
bertanya mengapa hal yang sungguh di luar nalar itu dapat terjadi. Si gadis
menjawab, itu merupakan buah dari kekonsistenannya membaca Al-Ma’tsurot
(do’a-do’a perlindungan yang sering Rosul baca yang dikumpulkan kemudian
dijadikan buku saku oleh Hasan Al Banna) tiap pagi dan petang.
Kisah perlindungan lain berlanjut mengenai
seorang gadis mu’allaf asal Amerika, kalau tak salah ingat. Ia baru selesai
mengaji dan mengkaji Islam dan bermaksud pulang dengan menaiki kereta api yang
sepi penumpang pada malam hari. Sambil bibirnya berkomat-kamit mengulang
hafalan Qur’annya, ia tertegun, ternyata masih ada seorang penumpang lain
selain dirinya.
Belum lama perjalanan berlangsung,
ia tersentak karena mengingat berita bahwa terdapat beberapa kasus pemerkosaan
kemudian pembunuhan pada setiap wanita yang pulang sendiri di malam hari dan
menggunakan kereta api sebagai alat transportasinya. Rasa takut timbul dalam
hatinya kemudian bersiaga mengawasi penumpang lain tersebut yang ternyata seorang
pria dan berpenampilan menakutkan. Tak mungkin turun ketika kereta masih melaju,
maka ia memohon perlindungan dari Allah sepenuhnya kemudian terus mengulang
hafalan Qur’annya.
Sang Gadis bernapas lega dan segera
turun ketika kereta telah berhenti di stasiun tujuannya. Keesokan paginya, ia
kaget karena membaca berita pemerkosaan sekaligus pembunuhan terjadi di kereta
yang sempat ia tumpangi pada malam naas itu. Ketika ia melihat foto pelaku,
yakinlah ia bahwa pembunuh tersebut merupakan orang yang sama dengan yang
menjadi teman seperjalanannya.
Penasaran mengalahkan rasa
takutnya, maka Sang Gadis memberanikan diri datang ke Kantor Polisi tempat
pelaku ditahan demi mencari tahu alasan mengapa ia dapat selamat. Setelah ia
mendapatkan waktu untuk mengunjungi pembunuh tersebut, ia lalu bertanya,
mengapa ia tidak diperlakukan seperti halnya korban, padahal Sang Pembunuh tahu
bahwa ia dapat melancarkan aksinya karena mereka hanya berdua pada malam itu.
Si pembunuh kemudian berwajah bingung
lalu menjawab, “Mana mungkin aku membunuhmu, padahal ada dua orang body guard menakutkan yang tengah
menjagamu?” Sejenak Sang Gadis terdiam bingung, kemudian tersenyum simpul
sambil berlirih pelan, “Allah menjagaku dari niat burukmu dengan mengirimkan
malaikat yang tak dapat kulihat, namun di matamu mereka terlihat dan berwujud
manusia.”
Saya pun terpukau dengan kisah yang
saya utarakan sendiri, kemudian mengakhiri teguran panjang lebar tadi dengan
kalimat penutup, yang juga lumayan panjang.
“Kalau kamu takut, kamu baca aja surat
An Naas, Al Falaq sama Al Ikhlash, masing-masing tiga kali. Terus baca semua
surat di Qur’an yang udah kamu hafal. Yakin deh, meskipun kamu nggak bisa liat,
Allah udah kirim Malaikat buat ngelindungin kamu. Jadi, Jin manapun nggak akan
bisa ngeganggu kamu. Tapi kamu harus inget, kalau kamu minta sama Allah, kamu
harus taat juga sama Allah. Allah nyuruh kita sholat, kerjain. Allah nyuruh
kita nutup aurat, laksanain. Allah akan marah kalau kamu minta tolongnya sama
batu, kuburan, atau pohon. Paham?”
Si bungsu mengangguk sambil
mengedipkan matanya yang mulai redup. Setelah saya menyuruhnya ke kamar, celotehnya
pun tak terdengar lagi. Beberapa bagian tidak saya tuliskan di sini karena akan
terlalu panjang, namun semua aktivitas maupun perbincangan sederhana yang
terjadi antara saya maupun adik kecil saya membuat saya selalu senang karena
mendapat bahan tulisan terbaru, serta ajang untuk mengoreksi diri, “Jangan cuma
bisa ceramah, perbaikin plus laksanain juga semua omongan lu itu, Fid!”
Semoga selalu dan hanya Allah yang
kita jadikan sandaran dalam menemukan solusi di setiap problematika hidup, semoga
Ia senantiasa melindungi dan membersihkan kita dari sifat ria juga ujub yang
membakar habis amal sholih, semoga Allah tetapkan kita pada iman, islam serta
ihsan hingga akhir hayat..