Senin, 19 September 2016

Proses Berhijabku


Merupakan satu kekurangan saya bahwa memiliki kebiasaan menulis pada waktu yang tidak menentu dan terkadang tidak memiliki sangkut paut terhadap kejadian yang ada di sekitar. Apa yang terlintas oleh sayalah yang saya utarakan dalam bentuk tulisan, sehingga sulit bagi saya pribadi dalam berkonsentrasi menulis mengenai genre tertentu.

Kali ini, tulisan saya mengenai proses saya berhijab. Baru teringat kemarin bahwa saya juga tak serta merta nyaris sempurna dalam menjalani salah satu kewajiban saya sebagai muslimah. Saya katakan nyaris karena kini saya masih belum menutupi bagian tubuh yang sering kali dianggap remeh oleh kebanyakan orang.

Orang tua telah membaluti saya dengan kerudung ketika usia saya menginjak 60 hari menjadi anggota baru di dunia ini. Namun, hingga 6 tahun berseragam putih merah orang tua masih membiarkan saya mengenakan kaus berlengan pendek, celana panjang, tentu dengan kerudung, bila keluar bermain bersama kawan. Salah seorang tetangga berujar bahwa baju dan celana saya tidak tepat dipadankan dengan kerudung yang saya kenakan. Ketika saya ceritakan hal tersebut pada ibu, ia menjawab, “Nggak apa-apa. Justru kamu hebat, Kak. Kamu masih SD tapi udah belajar pakai jilbab (kerudung) padahal belum wajib. Nah, ibu X itu malah belum pakai padahal beliau yang udah wajib.”

Karena hidayah Allah melalui buku berjudul Dosa-dosa yang Tak Diampuni yang dipinjamkan kawannya, ibu saya berkerudung ketika masa putih abu-abunya hampir selesai. Meski terlambat, namun alhamdulillaah, hingga kini ia istiqomah berhijab. Sayapun berkesimpulan bahwa ibu saya ingin agar saya terbiasa melaksanakan salah satu kewajiban saya ketika baligh kelak dengan kesadaran dan hati yang mantap. Maka pembiasaan sejak dinilah yang ia terapkan pada saya juga adik-adik perempuan saya.

Ketika seragam saya berubah menjadi biru putih, barulah saya diperintahkan orang tua mengenakan baju berlengan panjang. Waktu bergulir hingga saya mengenakan seragam putih abu-abu, orang tuapun memperbaharui perintah agar saya mengenakan rok. Sepanjang ingatan saya, terkadang saya masih dengan santai bercelana panjang bila keluar rumah hendak berbelanja ke warung atau menjemur pakaian. Ataupun menggulung lengan seragam sekolah beberapa senti dengan asal meski terkesan sebagai siswi yang urakan. Gamis atau hijab saya kenakan ketika masa putih abu-abu berakhir, itupun karena saya berada di lingkungan yang mengharuskan saya mengenakannya kala bepergian. Manset saya beli serta pakai baru pada tahun lalu, itupun karena dua kawan sekelas di kampus yang mendesak saya menutupi pergelangan tangan saya yang tak tertutup.

Saya bersyukur karena meskipun sejak dahulu tidak disekolahkan di pesantren atau Aliyah yang selalu saya idamkan, perlahan saya terus berproses berhijab tanpa mengekor fashion yang sedang berkembang di kalangan kawan-kawan seusia. Merupakan anugerah bagi saya dari Allah karena hampir selalu ditempatkan di antara orang-orang yang terus mengingatkan saya pada kebaikan. Bahkan, si bungsu yang tengah duduk di kelas 3 SD mengalahkan saya karena telah malu bila tak mengenakan rok bila hendak keluar bermain.

Bukan, bukan bermaksud membanggakan diri. Tujuan saya menuliskan ini semua adalah untuk berbagi pengalaman bagi saudari-saudari muslimah yang masih bimbang dalam berhijab agar menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan yang akan berdampak besar hingga kehidupan selanjutnya di akhirat. Tidak pula bermaksud mengesampingkan perintahNya agar berislam secara kaaffah (menyeluruh).

Saya berpendapat bahwa semua butuh proses dan yang terpenting adalah konsistensi serta komitmen dalam melaksanakan kewajiban saat kita mengaku beragama islam. Bukan dengan tiba-tiba menutupi seluruh tubuh, namun dengan mudah menyampakkannya ketika diuji olehNya dengan didatangkannya masalah.

Keraguan berasal dari setan. Bila perilaku maupun masa lalu yang masih menjadi pertimbangan, perlu diingat satu hal. Kami para hijaber juga manusia, yang dibekaliNya hawa nafsu pula. Kami juga dalam usaha memperbaiki diri, berusaha semampu kami agar dapat menyesuaikan kualitas diri dengan pakaian taqwa yang kami kenakan. Apapun alasan dan kondisi awal yang membuat kami mengenakan ‘pakaian kuno’ ini, kami berdo’a agar Allah mengampuni dan meluruskan niat kami agar hanya cintaNya jua yang kami tuju, kini hingga akhir hidup kami nanti.

Semoga, usaha kita semua dalam menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslimah, Ia tuntun juga ridhoi dan menjadi tabungan serta pemberat timbangan kebajikan di Hari Perhitungan kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar