Senin, 19 September 2016

Perbincangan Pranikah bagi Wanita


Bila para wanita pada suatu negeri rusak, maka rusaklah masa depan negeri tersebut. Kira-kira itulah yang pernah saya dengar namun saya menyesal karna lupa sumber dan versi aslinya.

Kini, saya ingin membahas seputar pernikahan. Bila beberapa waktu lalu perbincangan tersebut masih menjadi bahan candaan atau sekedar angin lalu, kini menjadi suatu hal yang serius untuk dibincangkan.

Kawan-kawan semasa SMK, seorganisasi maupun seangkatan di bangku kuliah hampir tak luput mengupas tema seputar mitsaaqon gholiizho (perjanjian yang berat) ini dalam forum diskusinya.

Syukur saya tercurah untukNya atas kebaikan ini. Namun terdapat beberapa hal yang saya sayangkan, dan ini kembali pada dua kalimat emas yang saya tulis di awal.

Bila melihat kondisi wanita saat ini, yang tidak terkecuali saya sendiri, sungguh sangat sedikit yang berkompeten menjadi seorang istri bahkan seorang ibu.

Para wanita muslim era ini ditempa menjadi seorang wanita karir yang prestasinya dalam bekerja luar biasa serta terbiasa pada dunia yang tak luput foya-foya. Sedangkan yang dibutuhkan kelak adalah wanita yang akan dapat mendampingi suaminya dalam mengemban amanah dunia akhirat serta mendidik keturunannya menjadi hambaNya yang sholih lagi cerdas dan kuat iman, ilmu, fisik juga amal.

Bila sholat fardhu masih berlubang jarang dikerjakan, kemampuan membaca Al-Qur’an rendah apalagi memahami serta mengamalkannya, serta enggan belajar bagaimana islam menjadikan seseorang yang dipanggil istri dan ibu menjadi mulia dunia akhirat, generasi seperti apa yang akan dipersembahkan untuk islam kelak?

Saya cuma berharap, semoga tak akan lagi melihat seorang wanita yang dengan mudah membuka aib suaminya meski pada orangtuanya sendiri, atau seorang wanita yang dengan mudah menyerapah buah hatinya dengan sebutan ‘anak setan’ atau menyematkan nama binatang ketika ia murka.

Ah, satu hal lagi yang perlu diingat. Ketika seorang lelaki yang taat pada Allah jatuh cinta, ia akan meminta seorang wanita menjadi istrinya. Namun ketika lelaki yang enggan bertanggungjawab pada Tuhannya jatuh cinta, ia akan meminta seorang wanita menjadi pacarnya. Maka pilihlah wahai wanita, dan jadilah muslimah seutuhnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar