Minggu, 25 September 2016

Teguran Panjang untuk Si Bungsu

Malam ahad kemarin, saya bermain lempar tangkap bersama si bungsu Refah. Yah, menjadi salah satu kewajiban saya pula untuk menemaninya bersenang-senang meski badan tidak dalam kondisi fit. Dari permainan sederhana itu, keluar kata ‘sia’ dari bibir mungilnya. Bagi sebagian besar orang Sunda atau yang telah lama tinggal berdampingan dengan suku itu, tiga kata barusan bermakna kasar. Maka, sambil terus bermain lempar tangkap, teguran saya berupa kisah-kisah yang tak jelas arahnya berlangsung.

Teguran saya diawali dengan menjelaskan bahwa kata tersebut bermakna kasar. Saya bercerita padanya bahwa saya sering kali kesal pada siapapun yang dengan santainya berseloroh dengan kata-kata kasar, kotor, jorok hingga koleksi kebun binatang disebutkan dalam kondisi apapun. Catat, dalam kondisi apapun. Maka dengan kesal saya mengingatkan orang-orang tersebut melalui satu hadits shohih riwayat Bukhori, “Fal yaqul khoiron au liyasmut,” “Berkatalah yang baik atau diam!”

Saya perhatikan kebiasaan ini bermula dari lingkungan, baik keluarga maupun selainnya. Kata-kata tersebut kemudian terus terngiang pada kalbu anak-anak yang masih suci sehingga sampai mereka beranjak dewasa mereka menilai bahwa bukanlah kesalahan besar meski berkata rendahan kepada siapapun dalam kondisi apapun. Sungguh, pendidikan yang dienyam juga agama yang dianut mestilah berbanding lurus dengan akhlaq yang dimiliki tiap insan.

Kemudian, teguran saya berlanjut pada larangan mengikuti segala hal yang tidak diketahui si bungsu. Baik itu lagu ataupun permainan dalam bahasa apapun. Tanyakan terlebih dahulu kepada saya atau tetehnya. Setelah kami nyatakan itu aman, maka boleh dimainkan atau dilantunkan olehnya.

Saya ingat, kala di masa yang sama saya pernah memainkan sebuah permainan yang menurut saya sedikit menakutkan. Mungkin ada yang masih ingat dengan permainan jelangkung? Karena tidak tahu maksud permainan tersebut, saya terus memainkannya bersama kawan hingga masa merah putih akan saya tinggalkan. Atau, lagu yang beberapa waktu lalu pernah saya dengar di mobil jemputan anak-anak SD, yang membuat saya kaget. Memang dari nadanya itu adalah lagu anak-anak, namun liriknya digubah. Ternyata maksud lagu tersebut mengarah pada hubungan halal suami istri. Astaghfirullooh.. Merupakan PR besar bagi tiap pendidik agar dapat terus mendampingi buah hati serta muridnya dalam jalur yang telah ditentukanNya.

Teguran saya beralih menjadi kisah lain. Dan si bungsu kini diam serius mendengarkan namun tangannya terus beraktivitas. Hal menakutkan tadi saya kaitkan dengan kisah yang berbau mistis berikut dengan mengekornya insan yang tidak punya pendirian. Kisah ini saya dengar beberapa tahun lalu saat masih berseragam putih abu-abu.

Beberapa pemuda di suatu desa, berkumpul di sebuah rumah pada suatu malam. Sayangnya mereka bertingkah aneh, ada yang beraksi seperti macan, buaya atau binatang lain. Ternyata mereka telah merapalkan sesuatu yang akhirnya membuat tubuh mereka dirasuki jin. Maksud dari tindakan bodoh itu ternyata adalah supaya mereka memiliki ilmu kebal. Semacam tidak terluka bila ditusuk benda tajam.

Masih dengan wajah serius dan antusias, si kecil Refah tetap mendengarkan sesekali berseru kaget atau takut menanggapi cerita saya. Dihadapannya saya menanggapi kisah yang saya tuturkan sendiri, aktivitas macam apa yang mereka lakukan sehingga membutuhkan hal konyol tersebut? Tidakkah mereka takut bahwa selama 40 hari sholat mereka tidak akan diterima?

Kisahpun berganti, namun jalinannya masih dapat dipilin. Saya berujar pada adik kecil saya, “Enak lho jadi orang Islam! Kalau kita takut, tinggal minta perlindungan sama Allah. Nggak perlu bertingkah kaya orang-orang tadi.” Saya kisahkan padanya mengenai seorang siswi SMP yang ketika akan berangkat sekolah di pagi hari diculik kemudian disekap di bagasi mobil.

Setelah parkir di tempat yang sepi, Sang Penculik berusaha membuka bagasinya dengan susah payah hingga senja menjelang. Karena putus asa dan takut Sang Gadis mati kehabisan oksigen, akhirnya ia menyerahkan diri berikut mobilnya agar dapat ditindaklanjuti. Polisi telah meringkusnya, kemudian membuka bagasi tersebut dengan mudah. Ajaib, Sang Gadis sehat wal’afiat. Dengan kaget dan luar biasa bingung, penculik tersebut bertanya mengapa hal yang sungguh di luar nalar itu dapat terjadi. Si gadis menjawab, itu merupakan buah dari kekonsistenannya membaca Al-Ma’tsurot (do’a-do’a perlindungan yang sering Rosul baca yang dikumpulkan kemudian dijadikan buku saku oleh Hasan Al Banna) tiap pagi dan petang.

Kisah perlindungan lain berlanjut mengenai seorang gadis mu’allaf asal Amerika, kalau tak salah ingat. Ia baru selesai mengaji dan mengkaji Islam dan bermaksud pulang dengan menaiki kereta api yang sepi penumpang pada malam hari. Sambil bibirnya berkomat-kamit mengulang hafalan Qur’annya, ia tertegun, ternyata masih ada seorang penumpang lain selain dirinya.

Belum lama perjalanan berlangsung, ia tersentak karena mengingat berita bahwa terdapat beberapa kasus pemerkosaan kemudian pembunuhan pada setiap wanita yang pulang sendiri di malam hari dan menggunakan kereta api sebagai alat transportasinya. Rasa takut timbul dalam hatinya kemudian bersiaga mengawasi penumpang lain tersebut yang ternyata seorang pria dan berpenampilan menakutkan. Tak mungkin turun ketika kereta masih melaju, maka ia memohon perlindungan dari Allah sepenuhnya kemudian terus mengulang hafalan Qur’annya.

Sang Gadis bernapas lega dan segera turun ketika kereta telah berhenti di stasiun tujuannya. Keesokan paginya, ia kaget karena membaca berita pemerkosaan sekaligus pembunuhan terjadi di kereta yang sempat ia tumpangi pada malam naas itu. Ketika ia melihat foto pelaku, yakinlah ia bahwa pembunuh tersebut merupakan orang yang sama dengan yang menjadi teman seperjalanannya.
Penasaran mengalahkan rasa takutnya, maka Sang Gadis memberanikan diri datang ke Kantor Polisi tempat pelaku ditahan demi mencari tahu alasan mengapa ia dapat selamat. Setelah ia mendapatkan waktu untuk mengunjungi pembunuh tersebut, ia lalu bertanya, mengapa ia tidak diperlakukan seperti halnya korban, padahal Sang Pembunuh tahu bahwa ia dapat melancarkan aksinya karena mereka hanya berdua pada malam itu.

Si pembunuh kemudian berwajah bingung lalu menjawab, “Mana mungkin aku membunuhmu, padahal ada dua orang body guard menakutkan yang tengah menjagamu?” Sejenak Sang Gadis terdiam bingung, kemudian tersenyum simpul sambil berlirih pelan, “Allah menjagaku dari niat burukmu dengan mengirimkan malaikat yang tak dapat kulihat, namun di matamu mereka terlihat dan berwujud manusia.”

Saya pun terpukau dengan kisah yang saya utarakan sendiri, kemudian mengakhiri teguran panjang lebar tadi dengan kalimat penutup, yang juga lumayan panjang.

“Kalau kamu takut, kamu baca aja surat An Naas, Al Falaq sama Al Ikhlash, masing-masing tiga kali. Terus baca semua surat di Qur’an yang udah kamu hafal. Yakin deh, meskipun kamu nggak bisa liat, Allah udah kirim Malaikat buat ngelindungin kamu. Jadi, Jin manapun nggak akan bisa ngeganggu kamu. Tapi kamu harus inget, kalau kamu minta sama Allah, kamu harus taat juga sama Allah. Allah nyuruh kita sholat, kerjain. Allah nyuruh kita nutup aurat, laksanain. Allah akan marah kalau kamu minta tolongnya sama batu, kuburan, atau pohon. Paham?”

Si bungsu mengangguk sambil mengedipkan matanya yang mulai redup. Setelah saya menyuruhnya ke kamar, celotehnya pun tak terdengar lagi. Beberapa bagian tidak saya tuliskan di sini karena akan terlalu panjang, namun semua aktivitas maupun perbincangan sederhana yang terjadi antara saya maupun adik kecil saya membuat saya selalu senang karena mendapat bahan tulisan terbaru, serta ajang untuk mengoreksi diri, “Jangan cuma bisa ceramah, perbaikin plus laksanain juga semua omongan lu itu, Fid!”


Semoga selalu dan hanya Allah yang kita jadikan sandaran dalam menemukan solusi di setiap problematika hidup, semoga Ia senantiasa melindungi dan membersihkan kita dari sifat ria juga ujub yang membakar habis amal sholih, semoga Allah tetapkan kita pada iman, islam serta ihsan hingga akhir hayat..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar