Minggu, 02 Oktober 2016

Putih abu-abu dan Aktivitas Menyenangkannya

Sepuluh multimedia.. sepuluh multimedia.. Ah, ketemu!” seruku dalam hati. Setelah duduk di salah satu kursi cokelat dan menyapa orangtua murid lain, aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut kelas itu. Aku berpikir bahwa kelas ini akan penuh dengan hasil karya tangan berbakat anak-anak multimedia. Namun dengan kecewa aku kembali fokus memperhatikan keberlangsungan pembagian raport tengah semester ganjil adikku nomor empat. Meski pandanganku telah fokus kembali, namun pikiranku melayang pada masa lalu. “Kelas sepuluh ya..? Ini gua alamin tujuh tahun lalu. Bedanya, gua jurusan perkantoran,” gumamku. Aku menertawakan diriku yang tiba-tiba terserang perasaan bahwa kini aku telah begitu tua. Ketika kupikirkan kembali, hal itu tak aneh karena usiaku terhadap adik nomor empat memang terpaut enam tahun.
Setelah menerima rapor dari wali kelas yang cantik dan mengomeli adik, kuedarkan kembali pandangan yang kini ke sekeliling sekolah. Mentari terik menyinari seragam putih abu-abu maupun kejuruan yang beraneka ragam warna yang tengah berseliweran di sekitarku. Masa-masa ini hampir selalu penuh kesenangan juga semangat membara untuk melakukan berbagai aktivitas menarik di setiap harinya. Bagaimana pada masaku? Ah.. aku luar biasa menyesal karena hanya sibuk berkutat dengan buku-buku pelajaran.
Kegiatan menyenangkan pada masa putih abu-abu ingin kubincangkan di tulisanku kali ini. Maka, izinkan aku kembali mengurai kisah yang masih terjadi di hari yang sama, Sabtu lalu. Ketika mentari telah cukup lama pergi ke peraduannya sedang aku masih setia duduk di angkutan umum bersama penumpang lain menuju rumah, kutaksir telah tiga mobil bak lewat membawa sejumlah anak-anak usia SMP hingga SMA yang tengah asyik bersholawat. Sepanjang memoriku tanggap mengingat, kebiasaan ini dilakukan setiap hari Sabtu, ketika singgasana malam naik menuju kesempurnaan. Entah pukul berapa mereka kembali menginjakkan kaki-kaki kecilnya di rumah, atau apa saja yang mereka lakukan di tempat yang tidak kuketahui pula rimbanya. Terlepas dari kelompok yang telah membuat mereka merubah kebiasannya, saya merasa bersyukur ketika mereka berkumpul pada sabtu malam untuk tujuan kebaikan. Namun, hal yang tak menguntungkan diri sendiri juga orang lain sekiranya tidak dilaksanakan kembali di kemudian hari.
Silakan lakukan apapun aktivitas yang kita senangi bersama kawan, karena energi dan keingintahuan yang dimiliki pada masa ini amatlah besar, maka amat mubadzir bila hanya digunakan sepersekiannya. Yang ingin saya tekankan di sini adalah pilih dan pilahlah aktivitas yang ingin dilakukan. Gunakan logika sehat kita, apa saja manfaat juga kerugian yang akan didapat bila menekuni kegiatan-kegiatan tersebut. Matematika sederhana dapat mengalkulasikan total dari keduanya, bukan?
Yah, misalnya saja. Aktivitas yang masuk dalam daftar keinginan adalah pacaran, hang out, tawuran, shopping, bergosip ria, merokok, teler, nge-fly, free sex, ekskul basket, hiking, join di klub bahasa asing, ikut turnamen taekwondo atau catur juga ikut olimpiade sains sambil tetap eksis di OSIS dan nilai-nilai murni hasil kerja keras sendiri, mesti disebutkan dengan fair manfaat juga kerugian apa saja yang akan didapat dari masing-masing aktivitas tersebut kemudian kalkulasikan dan lihatlah hasil akhirnya.

“Bila terdapat banyak mudhorot (keburukan)nya, maka hukum sesuatu (barang ataupun aktivitas) akan menjadi haram!,” ujar Rosul. So, pintar untuk siapapun yang belajar, namun cerdas hanya milik orang yang memilih kebaikan untuk menyongsong masa depannya. Maka, pertimbangkanlah masak-masak sebelum kegiatan tersebut mendarah daging di kemudian hari.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

Minggu, 25 September 2016

Teguran Panjang untuk Si Bungsu

Malam ahad kemarin, saya bermain lempar tangkap bersama si bungsu Refah. Yah, menjadi salah satu kewajiban saya pula untuk menemaninya bersenang-senang meski badan tidak dalam kondisi fit. Dari permainan sederhana itu, keluar kata ‘sia’ dari bibir mungilnya. Bagi sebagian besar orang Sunda atau yang telah lama tinggal berdampingan dengan suku itu, tiga kata barusan bermakna kasar. Maka, sambil terus bermain lempar tangkap, teguran saya berupa kisah-kisah yang tak jelas arahnya berlangsung.

Teguran saya diawali dengan menjelaskan bahwa kata tersebut bermakna kasar. Saya bercerita padanya bahwa saya sering kali kesal pada siapapun yang dengan santainya berseloroh dengan kata-kata kasar, kotor, jorok hingga koleksi kebun binatang disebutkan dalam kondisi apapun. Catat, dalam kondisi apapun. Maka dengan kesal saya mengingatkan orang-orang tersebut melalui satu hadits shohih riwayat Bukhori, “Fal yaqul khoiron au liyasmut,” “Berkatalah yang baik atau diam!”

Saya perhatikan kebiasaan ini bermula dari lingkungan, baik keluarga maupun selainnya. Kata-kata tersebut kemudian terus terngiang pada kalbu anak-anak yang masih suci sehingga sampai mereka beranjak dewasa mereka menilai bahwa bukanlah kesalahan besar meski berkata rendahan kepada siapapun dalam kondisi apapun. Sungguh, pendidikan yang dienyam juga agama yang dianut mestilah berbanding lurus dengan akhlaq yang dimiliki tiap insan.

Kemudian, teguran saya berlanjut pada larangan mengikuti segala hal yang tidak diketahui si bungsu. Baik itu lagu ataupun permainan dalam bahasa apapun. Tanyakan terlebih dahulu kepada saya atau tetehnya. Setelah kami nyatakan itu aman, maka boleh dimainkan atau dilantunkan olehnya.

Saya ingat, kala di masa yang sama saya pernah memainkan sebuah permainan yang menurut saya sedikit menakutkan. Mungkin ada yang masih ingat dengan permainan jelangkung? Karena tidak tahu maksud permainan tersebut, saya terus memainkannya bersama kawan hingga masa merah putih akan saya tinggalkan. Atau, lagu yang beberapa waktu lalu pernah saya dengar di mobil jemputan anak-anak SD, yang membuat saya kaget. Memang dari nadanya itu adalah lagu anak-anak, namun liriknya digubah. Ternyata maksud lagu tersebut mengarah pada hubungan halal suami istri. Astaghfirullooh.. Merupakan PR besar bagi tiap pendidik agar dapat terus mendampingi buah hati serta muridnya dalam jalur yang telah ditentukanNya.

Teguran saya beralih menjadi kisah lain. Dan si bungsu kini diam serius mendengarkan namun tangannya terus beraktivitas. Hal menakutkan tadi saya kaitkan dengan kisah yang berbau mistis berikut dengan mengekornya insan yang tidak punya pendirian. Kisah ini saya dengar beberapa tahun lalu saat masih berseragam putih abu-abu.

Beberapa pemuda di suatu desa, berkumpul di sebuah rumah pada suatu malam. Sayangnya mereka bertingkah aneh, ada yang beraksi seperti macan, buaya atau binatang lain. Ternyata mereka telah merapalkan sesuatu yang akhirnya membuat tubuh mereka dirasuki jin. Maksud dari tindakan bodoh itu ternyata adalah supaya mereka memiliki ilmu kebal. Semacam tidak terluka bila ditusuk benda tajam.

Masih dengan wajah serius dan antusias, si kecil Refah tetap mendengarkan sesekali berseru kaget atau takut menanggapi cerita saya. Dihadapannya saya menanggapi kisah yang saya tuturkan sendiri, aktivitas macam apa yang mereka lakukan sehingga membutuhkan hal konyol tersebut? Tidakkah mereka takut bahwa selama 40 hari sholat mereka tidak akan diterima?

Kisahpun berganti, namun jalinannya masih dapat dipilin. Saya berujar pada adik kecil saya, “Enak lho jadi orang Islam! Kalau kita takut, tinggal minta perlindungan sama Allah. Nggak perlu bertingkah kaya orang-orang tadi.” Saya kisahkan padanya mengenai seorang siswi SMP yang ketika akan berangkat sekolah di pagi hari diculik kemudian disekap di bagasi mobil.

Setelah parkir di tempat yang sepi, Sang Penculik berusaha membuka bagasinya dengan susah payah hingga senja menjelang. Karena putus asa dan takut Sang Gadis mati kehabisan oksigen, akhirnya ia menyerahkan diri berikut mobilnya agar dapat ditindaklanjuti. Polisi telah meringkusnya, kemudian membuka bagasi tersebut dengan mudah. Ajaib, Sang Gadis sehat wal’afiat. Dengan kaget dan luar biasa bingung, penculik tersebut bertanya mengapa hal yang sungguh di luar nalar itu dapat terjadi. Si gadis menjawab, itu merupakan buah dari kekonsistenannya membaca Al-Ma’tsurot (do’a-do’a perlindungan yang sering Rosul baca yang dikumpulkan kemudian dijadikan buku saku oleh Hasan Al Banna) tiap pagi dan petang.

Kisah perlindungan lain berlanjut mengenai seorang gadis mu’allaf asal Amerika, kalau tak salah ingat. Ia baru selesai mengaji dan mengkaji Islam dan bermaksud pulang dengan menaiki kereta api yang sepi penumpang pada malam hari. Sambil bibirnya berkomat-kamit mengulang hafalan Qur’annya, ia tertegun, ternyata masih ada seorang penumpang lain selain dirinya.

Belum lama perjalanan berlangsung, ia tersentak karena mengingat berita bahwa terdapat beberapa kasus pemerkosaan kemudian pembunuhan pada setiap wanita yang pulang sendiri di malam hari dan menggunakan kereta api sebagai alat transportasinya. Rasa takut timbul dalam hatinya kemudian bersiaga mengawasi penumpang lain tersebut yang ternyata seorang pria dan berpenampilan menakutkan. Tak mungkin turun ketika kereta masih melaju, maka ia memohon perlindungan dari Allah sepenuhnya kemudian terus mengulang hafalan Qur’annya.

Sang Gadis bernapas lega dan segera turun ketika kereta telah berhenti di stasiun tujuannya. Keesokan paginya, ia kaget karena membaca berita pemerkosaan sekaligus pembunuhan terjadi di kereta yang sempat ia tumpangi pada malam naas itu. Ketika ia melihat foto pelaku, yakinlah ia bahwa pembunuh tersebut merupakan orang yang sama dengan yang menjadi teman seperjalanannya.
Penasaran mengalahkan rasa takutnya, maka Sang Gadis memberanikan diri datang ke Kantor Polisi tempat pelaku ditahan demi mencari tahu alasan mengapa ia dapat selamat. Setelah ia mendapatkan waktu untuk mengunjungi pembunuh tersebut, ia lalu bertanya, mengapa ia tidak diperlakukan seperti halnya korban, padahal Sang Pembunuh tahu bahwa ia dapat melancarkan aksinya karena mereka hanya berdua pada malam itu.

Si pembunuh kemudian berwajah bingung lalu menjawab, “Mana mungkin aku membunuhmu, padahal ada dua orang body guard menakutkan yang tengah menjagamu?” Sejenak Sang Gadis terdiam bingung, kemudian tersenyum simpul sambil berlirih pelan, “Allah menjagaku dari niat burukmu dengan mengirimkan malaikat yang tak dapat kulihat, namun di matamu mereka terlihat dan berwujud manusia.”

Saya pun terpukau dengan kisah yang saya utarakan sendiri, kemudian mengakhiri teguran panjang lebar tadi dengan kalimat penutup, yang juga lumayan panjang.

“Kalau kamu takut, kamu baca aja surat An Naas, Al Falaq sama Al Ikhlash, masing-masing tiga kali. Terus baca semua surat di Qur’an yang udah kamu hafal. Yakin deh, meskipun kamu nggak bisa liat, Allah udah kirim Malaikat buat ngelindungin kamu. Jadi, Jin manapun nggak akan bisa ngeganggu kamu. Tapi kamu harus inget, kalau kamu minta sama Allah, kamu harus taat juga sama Allah. Allah nyuruh kita sholat, kerjain. Allah nyuruh kita nutup aurat, laksanain. Allah akan marah kalau kamu minta tolongnya sama batu, kuburan, atau pohon. Paham?”

Si bungsu mengangguk sambil mengedipkan matanya yang mulai redup. Setelah saya menyuruhnya ke kamar, celotehnya pun tak terdengar lagi. Beberapa bagian tidak saya tuliskan di sini karena akan terlalu panjang, namun semua aktivitas maupun perbincangan sederhana yang terjadi antara saya maupun adik kecil saya membuat saya selalu senang karena mendapat bahan tulisan terbaru, serta ajang untuk mengoreksi diri, “Jangan cuma bisa ceramah, perbaikin plus laksanain juga semua omongan lu itu, Fid!”


Semoga selalu dan hanya Allah yang kita jadikan sandaran dalam menemukan solusi di setiap problematika hidup, semoga Ia senantiasa melindungi dan membersihkan kita dari sifat ria juga ujub yang membakar habis amal sholih, semoga Allah tetapkan kita pada iman, islam serta ihsan hingga akhir hayat..

Senin, 19 September 2016

Perbincangan Pranikah bagi Wanita


Bila para wanita pada suatu negeri rusak, maka rusaklah masa depan negeri tersebut. Kira-kira itulah yang pernah saya dengar namun saya menyesal karna lupa sumber dan versi aslinya.

Kini, saya ingin membahas seputar pernikahan. Bila beberapa waktu lalu perbincangan tersebut masih menjadi bahan candaan atau sekedar angin lalu, kini menjadi suatu hal yang serius untuk dibincangkan.

Kawan-kawan semasa SMK, seorganisasi maupun seangkatan di bangku kuliah hampir tak luput mengupas tema seputar mitsaaqon gholiizho (perjanjian yang berat) ini dalam forum diskusinya.

Syukur saya tercurah untukNya atas kebaikan ini. Namun terdapat beberapa hal yang saya sayangkan, dan ini kembali pada dua kalimat emas yang saya tulis di awal.

Bila melihat kondisi wanita saat ini, yang tidak terkecuali saya sendiri, sungguh sangat sedikit yang berkompeten menjadi seorang istri bahkan seorang ibu.

Para wanita muslim era ini ditempa menjadi seorang wanita karir yang prestasinya dalam bekerja luar biasa serta terbiasa pada dunia yang tak luput foya-foya. Sedangkan yang dibutuhkan kelak adalah wanita yang akan dapat mendampingi suaminya dalam mengemban amanah dunia akhirat serta mendidik keturunannya menjadi hambaNya yang sholih lagi cerdas dan kuat iman, ilmu, fisik juga amal.

Bila sholat fardhu masih berlubang jarang dikerjakan, kemampuan membaca Al-Qur’an rendah apalagi memahami serta mengamalkannya, serta enggan belajar bagaimana islam menjadikan seseorang yang dipanggil istri dan ibu menjadi mulia dunia akhirat, generasi seperti apa yang akan dipersembahkan untuk islam kelak?

Saya cuma berharap, semoga tak akan lagi melihat seorang wanita yang dengan mudah membuka aib suaminya meski pada orangtuanya sendiri, atau seorang wanita yang dengan mudah menyerapah buah hatinya dengan sebutan ‘anak setan’ atau menyematkan nama binatang ketika ia murka.

Ah, satu hal lagi yang perlu diingat. Ketika seorang lelaki yang taat pada Allah jatuh cinta, ia akan meminta seorang wanita menjadi istrinya. Namun ketika lelaki yang enggan bertanggungjawab pada Tuhannya jatuh cinta, ia akan meminta seorang wanita menjadi pacarnya. Maka pilihlah wahai wanita, dan jadilah muslimah seutuhnya!

Proses Berhijabku


Merupakan satu kekurangan saya bahwa memiliki kebiasaan menulis pada waktu yang tidak menentu dan terkadang tidak memiliki sangkut paut terhadap kejadian yang ada di sekitar. Apa yang terlintas oleh sayalah yang saya utarakan dalam bentuk tulisan, sehingga sulit bagi saya pribadi dalam berkonsentrasi menulis mengenai genre tertentu.

Kali ini, tulisan saya mengenai proses saya berhijab. Baru teringat kemarin bahwa saya juga tak serta merta nyaris sempurna dalam menjalani salah satu kewajiban saya sebagai muslimah. Saya katakan nyaris karena kini saya masih belum menutupi bagian tubuh yang sering kali dianggap remeh oleh kebanyakan orang.

Orang tua telah membaluti saya dengan kerudung ketika usia saya menginjak 60 hari menjadi anggota baru di dunia ini. Namun, hingga 6 tahun berseragam putih merah orang tua masih membiarkan saya mengenakan kaus berlengan pendek, celana panjang, tentu dengan kerudung, bila keluar bermain bersama kawan. Salah seorang tetangga berujar bahwa baju dan celana saya tidak tepat dipadankan dengan kerudung yang saya kenakan. Ketika saya ceritakan hal tersebut pada ibu, ia menjawab, “Nggak apa-apa. Justru kamu hebat, Kak. Kamu masih SD tapi udah belajar pakai jilbab (kerudung) padahal belum wajib. Nah, ibu X itu malah belum pakai padahal beliau yang udah wajib.”

Karena hidayah Allah melalui buku berjudul Dosa-dosa yang Tak Diampuni yang dipinjamkan kawannya, ibu saya berkerudung ketika masa putih abu-abunya hampir selesai. Meski terlambat, namun alhamdulillaah, hingga kini ia istiqomah berhijab. Sayapun berkesimpulan bahwa ibu saya ingin agar saya terbiasa melaksanakan salah satu kewajiban saya ketika baligh kelak dengan kesadaran dan hati yang mantap. Maka pembiasaan sejak dinilah yang ia terapkan pada saya juga adik-adik perempuan saya.

Ketika seragam saya berubah menjadi biru putih, barulah saya diperintahkan orang tua mengenakan baju berlengan panjang. Waktu bergulir hingga saya mengenakan seragam putih abu-abu, orang tuapun memperbaharui perintah agar saya mengenakan rok. Sepanjang ingatan saya, terkadang saya masih dengan santai bercelana panjang bila keluar rumah hendak berbelanja ke warung atau menjemur pakaian. Ataupun menggulung lengan seragam sekolah beberapa senti dengan asal meski terkesan sebagai siswi yang urakan. Gamis atau hijab saya kenakan ketika masa putih abu-abu berakhir, itupun karena saya berada di lingkungan yang mengharuskan saya mengenakannya kala bepergian. Manset saya beli serta pakai baru pada tahun lalu, itupun karena dua kawan sekelas di kampus yang mendesak saya menutupi pergelangan tangan saya yang tak tertutup.

Saya bersyukur karena meskipun sejak dahulu tidak disekolahkan di pesantren atau Aliyah yang selalu saya idamkan, perlahan saya terus berproses berhijab tanpa mengekor fashion yang sedang berkembang di kalangan kawan-kawan seusia. Merupakan anugerah bagi saya dari Allah karena hampir selalu ditempatkan di antara orang-orang yang terus mengingatkan saya pada kebaikan. Bahkan, si bungsu yang tengah duduk di kelas 3 SD mengalahkan saya karena telah malu bila tak mengenakan rok bila hendak keluar bermain.

Bukan, bukan bermaksud membanggakan diri. Tujuan saya menuliskan ini semua adalah untuk berbagi pengalaman bagi saudari-saudari muslimah yang masih bimbang dalam berhijab agar menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan yang akan berdampak besar hingga kehidupan selanjutnya di akhirat. Tidak pula bermaksud mengesampingkan perintahNya agar berislam secara kaaffah (menyeluruh).

Saya berpendapat bahwa semua butuh proses dan yang terpenting adalah konsistensi serta komitmen dalam melaksanakan kewajiban saat kita mengaku beragama islam. Bukan dengan tiba-tiba menutupi seluruh tubuh, namun dengan mudah menyampakkannya ketika diuji olehNya dengan didatangkannya masalah.

Keraguan berasal dari setan. Bila perilaku maupun masa lalu yang masih menjadi pertimbangan, perlu diingat satu hal. Kami para hijaber juga manusia, yang dibekaliNya hawa nafsu pula. Kami juga dalam usaha memperbaiki diri, berusaha semampu kami agar dapat menyesuaikan kualitas diri dengan pakaian taqwa yang kami kenakan. Apapun alasan dan kondisi awal yang membuat kami mengenakan ‘pakaian kuno’ ini, kami berdo’a agar Allah mengampuni dan meluruskan niat kami agar hanya cintaNya jua yang kami tuju, kini hingga akhir hidup kami nanti.

Semoga, usaha kita semua dalam menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslimah, Ia tuntun juga ridhoi dan menjadi tabungan serta pemberat timbangan kebajikan di Hari Perhitungan kelak.